Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juli 2009

Israel Ijinkan Berdirinya Klub Malam di Dekat Masjid Aqsa

www.eramuslim.com- Israel memang kurang ajar. Rezim Zionis itu memberi ijin operasi sebuah klub malam di dekat Masjid Al-Aqsa, Masjid suci ketiga bagi seluruh umat Islam di dunia. Untuk acara pembukaan, pengelola nightclub membagikan undangan gratis.

Berdirinya klub malam Israel di dekat Masjid Al-Aqsa menuai reaksi keras dari Menteri Wakaf Palestina di Gaza, Dr. Taleb Abu Sha'ar dalam pernyataannya bukan hanya mengutuk rezim penjajah Israel yang telah mengabulkan berdirinya nightclub tersebut, tapi juga mengecam undangan yang disebarkan karena bergambar para penari klub malam dengan latar belakang Kubah Batu yang menjadi ciri khas Masjid Al-Aqsa.

Abu Sha'ar mengingatkan, apa yang dilakukan Zionis Israel makin membahayakan keberadaan tempat suci umat Islam itu. Karena selain memberi iji operasi klub malam, Israel juga memberi ijin pembangunan sinagog-sinagog Yahudi di sekeliling Masjid Al-Aqsa. Rezim penjajah itu bahkan mengumumkan akan membangun sebuah desa wisata Yahudi di bawah sinagog-sinagog tersebut.

Abu Sha'ar menyerukan negara-negara Arab dan Islam agar lebih agresif mengambil tindakan untuk menyelamatkan kota Yerusalem dan kompleks Masjid Al-Aqsa dari kehancuran yang dilakukan Israel, termasuk mencegah makin meluasnya pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina.

Israel berambisi merebut Yerusalem yang menjadi hak rakyat Palestina, dengan cara melenyapkan bukti-bukti sejarah kota itu, mengerahkan komintas Yahudi untuk menetap di Yerusalem dan merusak berbagai tempat suci di Yerusalem. (ln/pic)

Minggu, 28 Juni 2009

Masyarakat Muslim Boston Miliki Masjid Baru

www.eramuslim.com. Dengan pemotongan pita hijau serta diiringi teriakan takbir, ratusan warga Muslim Boston meresmikan sebuah masjid baru di Roxbury Crossing pada hari Jumat yang lalu.

Dan dengan pemotongan pita, secara resmi Islamic Society of Boston Cultural Center dibuka, yang sebelumnya telah digunakan sejak musim gugur yang lalu. Masyarakat muslim Boston menyambut gembira dengan dibukanya Masjid yang juga dijadikan Islamic center dan pusat kebudayaan tersebut.

Masjid baru Boston ini mengalami berbagai macam tantangan serta kendala dalam pembangunannya, mulai dari kontroversi pembangunannya sampai masalah keuangan yang membuat perencanaan dan pembuatannya menjadi berlarut-larut selama dua dasawarsa.

Secara umum gedung baru ini masih belum sempurna, masih banyak elemen dekoratif belum ditambahkan dan tahap kedua pembangunan lanjutan berupa sebuah bangunan sekolah Islam saat ini hanya masih dalam impian, namun para pemuka agama Islam Boston memutuskan untuk segera secara resmi membuka masjid dan pusat kebudayaan tersebut.

Di seberang jalan, segelintir demonstran melakukan aksinya sambil meneriakkan “Prayer, Yes. Extremism, No!’’. Aksi ini dilakukan oleh gabungan dari berbagai kelompok antar agama sambil membawa mawar putih yang menurut mereka melambangkan perdamaian.

Bagi masyarakat Muslim setempat, peresmian masjid baru ini merupakan sebuah perayaan, karena mengingat sulitnya mereka berjuang untuk membangun masjid. Diperkirakan sekitar 1800 warga muslim melaksanakan sholat jumat pada hari itu, yang sebelumnya hanya sekitar 600 an orang.

"Ini adalah peristiwa besar, terutama apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Muslim disini," kata seorang imam bernama Ahmad Jabrane dari Boston timur.

"Akhirnya saya bisa merasakan kegembiraan ini sebagai seorang warga Boston. Bagi kami hal ini sangatlah penting - akhir dari sebuah era, dan permulaan dari sebuah era baru. Kami disini, dan kami akan tetap disini untuk membangun masyarakat Muslim Boston."

Meskipun peresmian masjid baru ini mengalami kontroversi dan mendapat reaksi protes, akan tetapi sejumlah tamu kehormatan bersedia hadir dalam acara peresmiannya termasuk Walikota Thomas M.Menino dan beberapa anggota dewan setempat.(fq/bostonnews)

Kamis, 25 Juni 2009

Kurang Imam, Banyak Masjid Brasil Tutup

www.republika.co.id. SAO PAULO - Meski Muslim di Brasil menikmati atmosfer toleransi unik, banyak masjid ditutup gara-gara jumlah imam yang jarang. Kondisi itu mengancam identitas Islam di kalangan Muslim, terutama generasi muda.

"Sepertiga masjid ditutup gara-gara tak ada imam," ujar Al-Sadiq Al Othmani, kepala Departemen Urusan Islam, di kantor Dakwah Islami, Amerika Latin berbasis Sao Paulo. Padahal ada banyak masjid di ibu kota utama negara-negara bagian Brasil dan juga kota-kota lain.

Dalam kota Sao Paulo sendiri ada sekitar sepuluh masjid, termasuk Masjid Brasil, masjid pertama di Amerika latin yang konstruksi pendirian dimulai pada 1929.

Budaya Toleransi Muslim Brazil sebenarnya juga memikat turis Muslim luar negeri. Hanya saja dari 120 masjid, hanya tersedia imam dan khotib tak lebih dari 40 orang. demikian menurut Khaled Taqei Ed-Din, seorang imam di Sao Paulo.

"Itu pun hanya sedikit yang menyelesaikan pendidikan syariah di tingkat universitas," ujarnya. "Sementara sisanya menjadi imam berdasarkan pengalaman," imbuh Khaled.

Alhasil meski sebagian besar masjid memiliki desain-desain unik, duapertiga bangunan ibadah umat Islam di Brasil ditutup, sepi tanpa tanda kehidupan. "Banyak masjid bahkan yang tak mampu menggelar sholat lima kali dalam sehari," keluh Al Sadiq.

Pemimpin Muslim mengaitkan krisis keberadaan imam dengan kekurangan dana di Islamic center. Itu membuat masjid-masjid Brasil tak mampu melakukan pelatihan terhadap calon-calon imam baru.

Mereka juga mengingatkan kondisi gawat akibat masjid yang makin banyak membisu. "Banyak generasi muda tidak tahu banyak tentang Islam," ujar Ahmed Othman Mazloum, seorang khotib asal Lebanon.

"Beberapa menjadi Muslim karena nama dan yang lain sudah mengabaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan agama," tuturnya.

Pemimpin Muslim sependapat jika kesalahan terbesar ada pada komunitas mereka, yang tidak melakukan upaya lebih untuk mendukung institusi masjid.

Al Sadiq menghimbau para organisasi Muslim harus bergerak dan menyediakan waktu khusus untuk merekrut imam penuh waktu alih alih menggunakan imam sukarela. Dukungan finansial pun, menurut Al Sadiq harus datang dari dalam komunitas sendiri.

Profesor Mohsen Bin Musa El-Husseini, kepala Pusat Islami di Foz du Iguacu, kota terdapat mayoritas Muslim kedua di Brasil setelah Sao Paulo, memiliki solus lain. "Komunitas Muslim, sangat membutuhkan aksi mendesak, yang keuntungan akan didedikasikan pada institusi Muslim. "Ini satu-satunya jalan untuk mencegah identitas Muslim di generasi masa depan," tegasnya.

Muslim di Brasil saat ini berkisar 27.329, menurut data sensus negara. Mayoritas adalah keturunan Syiria, Palestina, Lebanon, yang menetap di Brasil pada abad ke-19, saat Perang Dunia I dan pada 1970-an

Sebagian besar Muslim tinggal di negara bagian Parana, Goias, Rio de Janiero, dan Sao Paulo. Namun juga ada komunitas berjumlah cukup signifikan di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul./iol/itz